Hendra, 37 tahun, Karyawan Swasta, Malang:
Waktu SMP dulu aku pernah punya sahabat dekat, namanya Gito (nama samaran). Kami akrab hanya sampai kelas 1 saja, karena kelas 2 tidak sekelas. Di kelas 2 kelakuan Gito sangat berubah. Ia yang tadinya pemalu dan cenderung menutup diri, berubah 180 derajat menjadi sangat badung. Itulah sebabnya ia tidak naik kelas waktu kenaikan ke kelas 3.
Begitu aku lulus SMA kami tak pernah lagi bertemu, hingga waktu aku kuliah semester terakhir. Waktu itu ada reuni SMP. Gito datang dan langsung memelukku begitu melihatku. Gito benar-benar tidak seperti Gito yang kukenal dulu. Ngomongnya ceplas-ceplos, bahkan terkadang seperti menyombongkan diri. Logat bicaranya juga sudah kejakarta-jakartaan. Pakai lu-gue. Ia memang melanjutkan kuliahnya di Jakarta.
Sepulang dari reunian, Gito mampir ke rumahku untuk ngobrol lebih banyak lagi. Dan bahan obrolan yang paling seru adalah petualangan cintanya. Menurut cerita Gito, saat itu sedang menjalin hubungan dengan mahasiswi sekampusnya. Ia mengaku sudah biasa melakukan hubungan seks dengan pacarnya itu. Yang bikin aku geleng-geleng kepala, tante pacarnya pun ditidurinya juga! Gila betul anak ini. Ketika kutanya, kenapa nggak ibunya sekalian ditiduri, ia menjawab dengan enteng, “Kalo ibunya cakep sih gua mau!”.
Gito mengaku terus terang kalau ia rajin mengkonsumsi obat kuat dan tetek bengeknya yang membuat perempuan ketagihan. Bilang dihitung-hitung, sudah lebih dari 20 perempuan yang pernah ditidurinya sejak ia tinggal di Jakarta. Mulai dari mahasiswi, karyawati, sampai tante-tante kesepian. Aku sudah benar-benar tak mengenal Gito lagi. Gito yang lugu, rajin beribadah, dan sopan telah berubah drastis.
Setelah pertemuan malam itu, aku tak pernah lagi bertemu dengan Gito.. Hingga beberapa bulan yang lalu ia tiba-tiba nongol di rumahku. Ia dapat informasi alamatku dari ibuku. Waktu itu malam minggu. Ia mengajakku keluar untuk makan. Sebetulnya aku enggan, karena aku baru sehari sebelumnya datang dari tugas ke luar kota dan ingin menghabiskan waktu bersama istri dan 2 anakku. Tapi karena Gito mendesak terus, kuturuti juga ajakannya.
Gito datang ke Surabaya untuk urusan bisnis. Ia mengendarai sendiri mobilnya, sebuah sedan mewah keluaran terbaru berplat nomor Jakarta.
Di restoran, Gito cerita kalau ia sekarang berbisnis batu bara. Dulu pernah kerja di perusahaan swasta nasional, tapi berhenti karena bisnisnya maju pesat. Selain itu, ia merasa tak leluasa bergerak jika jadi pegawai. Ia menikahi pacar terakhirnya waktu kuliah dan punya 3 anak.
Dengan statusnya itu kukira Gito sudah berubah. Ternyata tidak. Ia masih suka bertualang mencari perempuan. Ia mengaku, yang jadi sasaran adalah ibu rumah tangga dan itu sudah menjadi tren di kalangan pergaulannya. Aku mengelus dada mendengar ceritanya. Gito merasa bangga jika berhasil menaklukkan perempuan berstatus ibu rumah tangga yang dikenal, baik lewat facebook maupun jumpa darat, di mall misalnya.
Gito juga mengaku, teman SMP kami yang dijuluki primadona sekolah waktu itu, sebut saja namanya Dewi, tak luput dari sasarannya. Katanya ia sudah melakukan hubungan badan dengan Dewi 2 kali. Setiap ia ke Solo, kota di mana Dewi berdomisili saat ini, selalu menyempatkan diri mengajak Dewi ke hotel. Padahal, kata Gito, Dewi sudah punya anak 3. Ia berencana mampir Solo sepulang dari Malang, khusus untuk bertemu Dewi.
Geram aku mendengar ocehan Gito, hingga terucap olehku kalau ia seorang “penjahat kelamin sejati”. Ia hanya tertawa mendengar ucapanku. Tertawanya makin lebar saat aku mengingatkannya agar bertobat sebelum terlambat sambil menimpali, “Sok alim lu, Ndra! Mumpung masih muda, enjoy aja lagi. Entar deh kalo nggak bisa ng***ng (ereksi) lagi baru tobat.”
Dalam pandanganku, Gito seperti kerasukan setan. Wajahnya memang di atas rata-rata, tapi yang kulihat padanya adalah wajah iblis. Mengumbar maksiat di mana-mana tanpa rasa berdosa, seolah akan hidup selamanya. Entah berapa banyak orang bejad seperti Gito di dunia ini? Bagiku, maling ayam jauh lebih terhormat dari mereka.
Saat itu aku berpikir, dengan uang yang dimilikinya, ia bisa mendapatkan apapun yang diinginkannya. Termasuk kehangatan tubuh perempuan. Tapi ia mungkin lupa kalau semua itu adalah atas kemurahan Tuhan. Tuhan melimpahkan rezeki padanya sebagai ujian, apakah ia bisa menggunakan dengan benar atau sesat. Ia mungkin lupa kalau kematian akan datang tanpa peringatan.
Semoga saja Gito segera sadar dan bertobat, karena kalau Tuhan murka, entah apa yang terjadi padanya. (*)
Selasa, 27 Agustus 2013
Curhat

0 Response to "Penjahat Kelamin"
Posting Komentar